Pola Takdir
"Sebuah pemikiran bagi mereka yang memperhatikan dan menganalisis beberapa kejadian yang membentuk pola"
*Notice: Tulisan ini tanpa ilmu apapun, tanpa adanya riset dan teori yang nyata, murni hanya pengamatan pribadi.
Oke, Mulai...
Entah mengapa saya percaya dengan adanya Pola Takdir, misal seperti contoh ini :
1. Jika seorang itu anak cerdas pintar, maka peluang dia untuk sukses akan tinggi, tetapi akan sangat disayangkan apabila tidak didukung oleh finansial/biaya pendidikan. Hal ini akan merubah takdirnya di masadepan. Mungkin dari contoh ini cukup sederhana dan dapat dinalar oleh semua orang.
2. Contoh lagi paling mudah adalah, ketika seseorang itu dalam memilih pekerjaan mengutamakan nyaman, kepastian, takut akan masadepan, takut mengambil risiko ya pola takdirnya akan mengarahkan pada pekerjaan seperti PNS dan mungkin kerja diperusahan. Apakah salah ? Ya jelas enggak lah..
Sebenarnya ini lebih kepada Feeling Good/ Bad suatu kejadian yang akan terjadi dikemudian hari, dengan mempertimbangkan dan merasakan apa saja yang telah terjadi, entah itu dari diripribadi, lingkungan sekitar dan tanda tanda takdir. Mengamati Pola Takdir bisa dirasakan oleh semua orang, semua orang pasti memiliki Persepsi akan suatu hal yang akan menstereotipkan sesuatu. Nah, Persepsi inilah yang menjadi salahsatu unsur dari dugaan Pola Takdir. Selain Persepsi yang menimbulkan stereotip adanya Felling / Perasaan/ Dugaan. Pertimbangan mengenai Pola Takdir juga adanya unsur pola kebiasaan dan tingkahlaku perilaku kejiwaan (Psikologi). Semua unsur diatas bisa menjadikan sesuatu hal menjadi pola sehingga akan menentukan pengambilan keputusan dalam hidup. Karena kecondongan dalam menentukan/ mengambil keputusan juga termasuk dalam unsur Pola Takdir, yang akan mempengaruhi posibilitas terjadinya sesuatu.
Unsur selanjutnya adalah eksternal, Mestakung (Semesta Mendukung), ini unsur eksternal yang tidak bisa kita ubah yang akan terjadi didiri kita. Apabila Felling itu tidak begitu kuat, tetapi kok lingkungan sekitar mendukung, lingkungan sekitar menghambat/tidak mendukung dan sebaginya, sehingga membuat prosentase Pola Takdir itu terpengaruh. Contohnya ketika ayahnya seorang pekerja di teknik sipil, ayah ini tahu betul bagaimana cara mencari uang didunia sipil. Secara tidak langsung anaknya akan diarahkan pada jurusan yang sama, karena semesta (ayahnya) memfasilitasi dan tahu apa apa saja yang menjadi penunjang dan sudah dipersiapkan spesialisasi apa saja yg d butuhkan anaknya untuk menjadi insinyur terahli dlm bidang sipil.
Jikalau boleh jujur ini metode analisis pada tulisan ini yang kurang tepat karena pengukuran setiap orang akan berbeda tergantung pada historikal hidupnya, traumanya, kecondongan akan sesuatu hal dan masih banyak lainnya.
Memang cukup aneh, dan apagunanya saya mengetahui dan mencoba menganalisis hal hal ini ? ya saya tidak tahu kwkwkwk. Jujur pengamatan seperti ini muncul ketika peralihan dari jenjeng SMP ke SMA. Dulu yang saya perhatikan pertama (seingat Saya) yaitu tukang becak, Saya bertanya mengapa orang itu memilih menjadi tukang becak? mengapa tidak pekerjaan lain ? apakah tidak berfikir bawasanya tukang becak penghasilannya ya segitu gitu aja? apakah pendidikan tidak sampai kepadanya ? apakah dia memang malas dalam belajar dan tidak di dukung oleh faktor keluarga orang kaya? ataukah ini sebuah cobaan dalam hidup ? apakah tukang becak memang takdir dari orang tersebut? apakah dengan dia menjadi tukang becak akan memotivasi anaknya untuk menjadi lulusan terbaik dengan profesi ayah tukang becak ? jangan jangan ya menjadi tukng becak Beliau nyaman? apakah ada kemungkinan di telah memahami hakikat hidup, maksudku Beliau mengerti akan hidup dan memilih profesi sederhana? lalu bagaimana dengan keluarganya dulu? jangan jangan Beliau nikah muda dan belum sempat menikmati masa muda sehingga tidak cukup pengalaman untuk menjadi lebih baik ? daaannnn...... jika diteruskan akan memusingkan pikiran sendiri.
Dengan tidak sadar ternyata aku tertarik dengan ilmu Filsafat yang selalu mempertanyakan kemungkinan kemungkinan yang ada, haduhh haduhh.... ngapain sih yaaf yaaf... tapi yasudahlah itu yang dulu Saya fikirkan, dan sekarang tidak terlalu pusing dengan itu, tetapi dari pengamatan faktor faktor tersebut ditambah feelingku membuat aku percaya dengan Pola Takdir.